Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

NEGARA AGRARIS YANG IMPOR HASIL PERTANIAN

 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor cabai selama semester I-2021 atau sepanjang Januari-Juni sebanyak 27.851,98 ton dengan nilai US$ 59,47 juta. Angka itu meningkat dibandingkan semester I-2020 yang hanya sebanyak 18.075,16 ton dengan nilai US$ 34,38 juta. Padahal pada tanggal 14 Maret kemaren Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Prihasto Setyanto, mengatakan tidak ada impor untuk merespons kenaikan harga cabai yang terjadi pada Februari dan Maret. Koordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pasokan dan meredam kenaikan harga cabai rawit telah dilakukan.

Cabai yang diimpor pada umumnya cabai merah, termasuk cabai rawit merah.

Negara-negara pemasok cabai sepanjang Januari-Juli 2021 diantaranya India, China, Malaysia, Spanyol, Australia, dan negara lainnya.

Secara rinci, sepanjang Januari-Juli 2021, nilai impor cabai dari India mencapai US$ 56,86 juta, meningkat 68,7% jika dibandingkan realisasi impor pada Januari-Juli 2020 yang mencapai US$ 33,69 juta.

Kemudian China, pada Januari-Juli 2021, realisasi impornya mencapai US$ 6,95 juta atau lebih tinggi dibandingkan realisasi impor periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 6 juta.

Dengan pemasok dari Malaysia, cabai yang diimpor ke Indonesia pada Januari-Juli 2021 senilai US$ 260.971 atau lebih rendah dibandingkan realisasi impor Januari-Juli 2020 yang sebesar US$ 547.036.

Adapun impor cabai dari Spanyol nilainya mencapai US$ 174.019 atau lebih rendah dibandingkan nilai impor Januari-Juli 2020 yang sebesar US$ 262.144.

Dari Australia, nilai impor RI pada periode Januari-Juli 2021 mencapai US$ 80.945 atau lebih rendah dibandingkan dengan nilai impor Januari-Juli 2020 yang sebesar US$ 138.971.

Sementara nilai impor yang berasal dari pemasok negara lainnya mencapai US$ 282.588 pada periode Januari-Juli 2021 atau lebih tinggi dibandingkan nilai impor pada periode Januari-Juli 2020 yang sebesar US$ 190.460. (cnbcindonesia.com)

Menurut Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa pasokan aneka cabai untuk konsumsi di Indonesia berada pada posisi surplus. Impor cabai ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan industri. Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementan Bambang Sugiharto menjelaskan impor cabai sebesar nilai tersebut diatas dilakukan untuk memenuhi kebutuhan industri. Cabai diimpor dalam bentuk cabai kering, cabai dihancurkan atau ditumbuk dan bukan cabai segar konsumsi. Beliau juga mengatakan bahwa volume impor tersebut hanya sekitar 1 persen dari total produksi nasional. Karenanya kami ajak industri nasional serap semua cabai petani lokal.

Menurut Hermanto anggota komisi IV DPR –RI perlu dilakukan pembenahan dalam tata kelola komoditas cabai agar tidak terjadi kelangkaan dan melambungnya harga sehingga tidak ada alasan untuk melakukan impor cabai.

Memang harga komoditas hasil pertanian ini harus di pantau oleh pemerintah, kenaikan harga komoditas hasil pertanian harus disikapi secara bijak. Sehingga para petani tidak dirugikan dan masyarakat masih memiliki kemampuan untuk melakukan pembelian komoditas tersebut. Bila terjadi harga yang tinggi seharusnya pemerintah tidak langsung melakukan impor untuk menekan harga, sehingga di sisi mayarakat diuntungkan akan tetapi mematikan kehidupan para petani. Harus ada kerja sama yang kontiniu dan simultan antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Para Pelaku Ekonomi di bidang Hasil Komoditas Pertanian. Sehingga dapat tercapai kestabilan harga tanpa adanya Impor.

Impor komoditas hasil pertanian ini sangat membingungkan, dimana Indonesia yang terkenal dengan negara Agraris harus impor hasil pertanian. Padahal Baru – baru ini Presiden Joko Widodo mengatakan mendambakan petani menjadi profesi yang menyejahterakan sehingga menarik generasi muda. Sebab ia mencatat, profesi petani masih didominasi kelompok usia 45 tahun ke atas. Jumlahnya mencapai 71 persen, katanya. "Sedangkan yang di bawah 45 tahun sebanyak 29 persen," kata Jokowi pada Jumat (6/8/2021). Hal ini disampaikan beliau pada acara Pengukuhan duta petani milennial dan duta petani andalan secara virtual di Ciawi, Bogor, Jawa Barat.

Bila ini terus terjadi bagaimana mungkin generasi muda akan tertarik untuk berprofesi menjadi Petani. Faktor inilah sebagai salah satu yang selama ini menjadikan Petani belum menjadi profesi yang di minati kamu milenial.

 

Posting Komentar untuk "NEGARA AGRARIS YANG IMPOR HASIL PERTANIAN"