KETIKA DOA TAK TERJAWAB DAN KITA MASIH BERIBADAH TAPI KITA BERHENTI BERHARAP LAGI
Kamu masih beribadah dan
menyembahNya, Tapi Diam – diam kamu sudah tidak berharap Apa – apa
Pernah gak kira ngerasain difase
ini, sampe pada akhirnya kita pasrah dan tidak berharap apa – apa lagi.
Berbagai macam pertanyaanpun muncul, begitu juga berbagai bantahan juga muncul,
seolah dalam hati dan pikiran kita berperang sendiri. Pikiran baik dan buruk
datang silih berganti. Sampai terkadang kita malah berpikir mungkin ini akibat dosa – dosa kita
yang terlalu banyak hingga Allah
hapuskan dulu dosa kita dan menunda mengkabulkan doa – doa kita. Terkadang yang
paling lelah bukan tubuhmu tapi hati yang terlalu lama menunggu.
Segala amaliyah dzikir selalu
dilantunkan, berbagai cara zikir ataupun ibadah dilakukan berharap doa terkabul.
Tapi faktanya tak satupun sesuai keinginan, tak satupun. Pada akhirnya, kita
paham, bahwa segala ibadah dan amalan itu adalah bentuk penghambaan kita kepada
sang pencipta bukan media transaksional. Walau demikian kita masih bangun untuk
salat, Masih mengangkat tangan setelahnya. Bibirmu masih bergerak mengucap doa
yang sama, yang sudah kamu ucapkan ratusan kali. Tapi kalau jujur — ada bagian
dari hatimu yang sudah berhenti benar-benar berharap. Kamu berdoa lebih karena
kebiasaan, bukan karena masih yakin akan dijawab. Kamu ibadah karena takut
berhenti, bukan karena masih menunggu dengan hati yang hidup. Kita tidak berani
mengakuinya ke siapapun. Karena rasanya seperti mengaku pada dirimu sendiri
bahwa imanmu sedang retak. Padahal ini pernah dialami manusia yang paling
dicintai Allah.
Hal ini terjadi bukan karena
doamu kurang khusyuk. Bukan karena ibadahmu kurang istiqamah. Atau Zikirmu dan
sedekahmu yang kurang banyak. Tapi karena ada masa dalam perjalanan iman setiap
orang. bahkan Nabi sekalipun pernah merasakan hal demikian. Ketika langit terasa diam, dan hati mulai
menyimpulkan sendiri bahwa diam itu berarti ditinggalkan. Ibnu Qayyim menyebut
fase ini sebagai bagian dari ujian yang justru menyaring siapa yang benar-benar
beribadah karena Allah, dan siapa yang beribadah karena jawaban yang cepat.
Rasa hampa yang kita simpan itu
bukan tanda kita munafik. Ia tanda kalau kita sedang berada di titik yang sama
dengan manusia paling mulia sekalipun pernah berada — menunggu, dalam diam,
tanpa kepastian kapan jawabnya datang.
Dalam Hati kita yang sudah tidak
lagi berharap itu bukan tanda imanmu gagal. Ia adalah tanda kita sedang berada
di fase yang sama dengan yang pernah dilalui manusia paling dicintai Allah. Allah
tidak berkata, "Aku diam karena Aku sudah tidak peduli." Allah
berkata, "Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada pula benci
kepadamu" — justru di tengah keheningan yang paling terasa berat.
Keheningan bukan penolakan. Ia
sering kali adalah bentuk lain dari perhatian yang sedang menyiapkan sesuatu
yang belum kamu lihat. Diam-Nya bukan jawaban "tidak." Ia sedang
menulis jawaban yang belum kamu siap terima.
Kalau hatimu sudah lelah
berharap, kamu tidak perlu berpura-pura masih penuh semangat di hadapan Allah. Datang
saja apa adanya. Katakan, "Ya Allah, aku lelah menunggu. Tapi aku masih di
sini." Itu sudah cukup. Salat yang kamu jalankan dengan hati yang lelah
tetap sampai kepada-Nya — karena Allah tidak menghitung besar kecilnya
semangatmu, Ia menghitung kau yang tetap datang. Di sinilah letak iman yg
murni, bukan iman yg tercampur dalam segala keinginan. Ketika segala apa yg
dipanjatkan tak sesuai harapan, di situlah sebetulnya Tuhan berkata,
"beribadahlah karena kau hambaKu yg tulus dalam menyembah, bukan menyembah
karena ingin sesuatu". Setiap ibadah bukan lagi karena pengharapan, tapi
murni bentuk penghambaan. Doa yg dilangitkan pun bukan lagi berbunyi, "Ya
Allah, aku ingin dapat ini, dilunasi ini, dilancarkan ini..." tapi cukup
minta ampunan, rasa syukur, dan permintaan untuk kelapangan hati apapun yg
ditakdirkan ke depan, apakah itu penderitaan atau kebahagiaan.
Coba lihat Quran Surat Ad – Dhuha
ayat 4
"Wa lal-aakhiratu khairul
laka minal uulaa" — dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada
permulaan.
(QS. Ad-Duha : 4)
Jangankan kita yang manusia
biasa, Nabi yang sangat mulia itu saja beliau mengalaminya. Masa nabi tidak
menerima wahyu atau tidak ada petunjuk sama sekali. Dimana wahyu berhenti turun
kepada Nabi Muhammad ﷺ. Berbulan-bulan. Orang-orang di sekitarnya mulai
berbisik, mempertanyakan apakah Allah sudah meninggalkannya.
Lalu turun ayat ini:
"Tuhanmu tiada meninggalkan
kamu dan tiada (pula) benci kepadamu."
(QS. Ad-Duha : 3)
Perhatikan dua kata yang dibantah
sekaligus — wadda'a (meninggalkan / berpisah) dan qalaa (membenci). Allah tidak
hanya menjawab "Aku masih di sini." Ia menjawab lebih dalam dari itu:
keheningan itu bukan tanda perpisahan, dan bukan tanda kebencian.
Masa itu disebut fatrah al-wahyu
— jeda wahyu. Sumber-sumber riwayat menyebutkan durasinya berlangsung cukup
lama sampai membuat Nabi ﷺ gelisah, bahkan sempat mengira wahyu itu telah
terhenti untuknya.
Bayangkan posisinya — manusia
yang baru saja menerima wahyu pertama, penuh semangat menyampaikan risalah,
tiba-tiba dibiarkan dalam kesunyian tanpa penjelasan. Tidak ada arahan baru.
Tidak ada kepastian.
Dan di ujung kesunyian itu, bukan
teguran yang datang. Justru penegasan cinta yang datang lebih dulu — sebelum
janji-janji lain di surah yang sama. Jika manusia semulia itu pun diuji dengan
keheningan, maka keheninganmu bukan bukti kau ditinggalkan.
.jpg)
Posting Komentar untuk "KETIKA DOA TAK TERJAWAB DAN KITA MASIH BERIBADAH TAPI KITA BERHENTI BERHARAP LAGI"