Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KETIKA DOA TAK TERJAWAB DAN KITA MASIH BERIBADAH TAPI KITA BERHENTI BERHARAP LAGI

 

Ketika Doa Tak Terjawab

Kamu masih beribadah dan menyembahNya, Tapi Diam – diam kamu sudah tidak berharap Apa – apa

Pernah gak kira ngerasain difase ini, sampe pada akhirnya kita pasrah dan tidak berharap apa – apa lagi. Berbagai macam pertanyaanpun muncul, begitu juga berbagai bantahan juga muncul, seolah dalam hati dan pikiran kita berperang sendiri. Pikiran baik dan buruk datang silih berganti. Sampai terkadang kita malah berpikir mungkin ini akibat dosa – dosa kita yang  terlalu banyak hingga Allah hapuskan dulu dosa kita dan menunda mengkabulkan doa – doa kita. Terkadang yang paling lelah bukan tubuhmu tapi hati yang terlalu lama menunggu.

Segala amaliyah dzikir selalu dilantunkan, berbagai cara zikir ataupun ibadah dilakukan berharap doa terkabul. Tapi faktanya tak satupun sesuai keinginan, tak satupun. Pada akhirnya, kita paham, bahwa segala ibadah dan amalan itu adalah bentuk penghambaan kita kepada sang pencipta bukan media transaksional. Walau demikian kita masih bangun untuk salat, Masih mengangkat tangan setelahnya. Bibirmu masih bergerak mengucap doa yang sama, yang sudah kamu ucapkan ratusan kali. Tapi kalau jujur — ada bagian dari hatimu yang sudah berhenti benar-benar berharap. Kamu berdoa lebih karena kebiasaan, bukan karena masih yakin akan dijawab. Kamu ibadah karena takut berhenti, bukan karena masih menunggu dengan hati yang hidup. Kita tidak berani mengakuinya ke siapapun. Karena rasanya seperti mengaku pada dirimu sendiri bahwa imanmu sedang retak. Padahal ini pernah dialami manusia yang paling dicintai Allah.

Hal ini terjadi bukan karena doamu kurang khusyuk. Bukan karena ibadahmu kurang istiqamah. Atau Zikirmu dan sedekahmu yang kurang banyak. Tapi karena ada masa dalam perjalanan iman setiap orang. bahkan Nabi sekalipun pernah merasakan hal demikian. Ketika  langit terasa diam, dan hati mulai menyimpulkan sendiri bahwa diam itu berarti ditinggalkan. Ibnu Qayyim menyebut fase ini sebagai bagian dari ujian yang justru menyaring siapa yang benar-benar beribadah karena Allah, dan siapa yang beribadah karena jawaban yang cepat.

Rasa hampa yang kita simpan itu bukan tanda kita munafik. Ia tanda kalau kita sedang berada di titik yang sama dengan manusia paling mulia sekalipun pernah berada — menunggu, dalam diam, tanpa kepastian kapan jawabnya datang.

Dalam Hati kita yang sudah tidak lagi berharap itu bukan tanda imanmu gagal. Ia adalah tanda kita sedang berada di fase yang sama dengan yang pernah dilalui manusia paling dicintai Allah. Allah tidak berkata, "Aku diam karena Aku sudah tidak peduli." Allah berkata, "Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada pula benci kepadamu" — justru di tengah keheningan yang paling terasa berat.

Keheningan bukan penolakan. Ia sering kali adalah bentuk lain dari perhatian yang sedang menyiapkan sesuatu yang belum kamu lihat. Diam-Nya bukan jawaban "tidak." Ia sedang menulis jawaban yang belum kamu siap terima.

Kalau hatimu sudah lelah berharap, kamu tidak perlu berpura-pura masih penuh semangat di hadapan Allah. Datang saja apa adanya. Katakan, "Ya Allah, aku lelah menunggu. Tapi aku masih di sini." Itu sudah cukup. Salat yang kamu jalankan dengan hati yang lelah tetap sampai kepada-Nya — karena Allah tidak menghitung besar kecilnya semangatmu, Ia menghitung kau yang tetap datang. Di sinilah letak iman yg murni, bukan iman yg tercampur dalam segala keinginan. Ketika segala apa yg dipanjatkan tak sesuai harapan, di situlah sebetulnya Tuhan berkata, "beribadahlah karena kau hambaKu yg tulus dalam menyembah, bukan menyembah karena ingin sesuatu". Setiap ibadah bukan lagi karena pengharapan, tapi murni bentuk penghambaan. Doa yg dilangitkan pun bukan lagi berbunyi, "Ya Allah, aku ingin dapat ini, dilunasi ini, dilancarkan ini..." tapi cukup minta ampunan, rasa syukur, dan permintaan untuk kelapangan hati apapun yg ditakdirkan ke depan, apakah itu penderitaan atau kebahagiaan.

Coba lihat Quran Surat Ad – Dhuha ayat 4

"Wa lal-aakhiratu khairul laka minal uulaa" — dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan.

(QS. Ad-Duha : 4)

Jangankan kita yang manusia biasa, Nabi yang sangat mulia itu saja beliau mengalaminya. Masa nabi tidak menerima wahyu atau tidak ada petunjuk sama sekali. Dimana wahyu berhenti turun kepada Nabi Muhammad ﷺ. Berbulan-bulan. Orang-orang di sekitarnya mulai berbisik, mempertanyakan apakah Allah sudah meninggalkannya.

Lalu turun ayat ini:

"Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu."

(QS. Ad-Duha : 3)

Perhatikan dua kata yang dibantah sekaligus — wadda'a (meninggalkan / berpisah) dan qalaa (membenci). Allah tidak hanya menjawab "Aku masih di sini." Ia menjawab lebih dalam dari itu: keheningan itu bukan tanda perpisahan, dan bukan tanda kebencian.

Masa itu disebut fatrah al-wahyu — jeda wahyu. Sumber-sumber riwayat menyebutkan durasinya berlangsung cukup lama sampai membuat Nabi ﷺ gelisah, bahkan sempat mengira wahyu itu telah terhenti untuknya.

Bayangkan posisinya — manusia yang baru saja menerima wahyu pertama, penuh semangat menyampaikan risalah, tiba-tiba dibiarkan dalam kesunyian tanpa penjelasan. Tidak ada arahan baru. Tidak ada kepastian.

Dan di ujung kesunyian itu, bukan teguran yang datang. Justru penegasan cinta yang datang lebih dulu — sebelum janji-janji lain di surah yang sama. Jika manusia semulia itu pun diuji dengan keheningan, maka keheninganmu bukan bukti kau ditinggalkan.

Posting Komentar untuk "KETIKA DOA TAK TERJAWAB DAN KITA MASIH BERIBADAH TAPI KITA BERHENTI BERHARAP LAGI"