ALASAN ASN TIDAK MAU MENDUDUKI JABATAN
Selama bertahun-tahun, Dalam
konteks ASN, para ASN biasanya sangat berambisi untuk menduduki jabatan
struktural baik itu eselon III, eseelon II bahkan eselon I, jabatan ini sangat
identik dengan prestise, kekuasaan, dan keberhasilan karier atau pencapaian
yang dapat dipamerkan ke public. Akan tetapi akhir – akhir ini, kini persepsi itu mulai bergeser. Kini
dimana Dunia kerja modern yang seolah mendorong individu untuk selalu terlihat
sibuk, produktif, dan kompetitif, Justru muncul tren baru yaitu cara menjalani
karier secara tenang tanpa kebutuhan untuk menunjukkan pencapaian kepada orang
lain. Dalam konteks ASN, istilah ini justru berkembang menjadi sesuatu yang
lebih spesifik, tidak berhenti bekerja atau mengundurkan diri untuk mencari
kerja yang lain, akan tetapi berhenti mengejar jabatan. Sekarang ini banyak ASN
justru memilih tetap berada di posisi fungsional atau staf, bahkan secara sadar
menghindari promosi jabatan.
Kondisi ini disebut sebagai
“quiet ambition”, yaitu kondisi ketika pegawai tetap bekerja secara
profesional, tetapi tidak lagi terlalu berambisi mengejar jabatan atau posisi
kepemimpinan. Istilah quiet Ambition pertama kali populer di media sosial
sekitar tahun 2022. Secara sederhana, ini merujuk pada sikap pekerja yang hanya
melakukan pekerjaan sesuai job desk nya atau deskripsi tugasnya, tanpa
memberikan usaha ekstra untuk membantu organisasinya. Para pekerjaan tidak keluar
dari pekerjaan dan juga tidak memberikan keterlibatan maksimal.
Fenomena ini tidak hanya terjadi
di Indonesia saja. Di Amerika Serikat, terjadi The Great Resignation pada 2021,
di mana jutaan pekerja memilih keluar dari pekerjaan mereka demi kesehatan
mental dan kualitas hidup. Di Jepang, dikenal istilah Satori Sedai, generasi
yang tidak lagi mengejar ambisi materialistis. Di China, muncul gerakan Tang
Ping atau “rebahan” sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan kerja
berlebihan.
Kita akan membahas quiet ambition
yang terjadi pada ASN di Indonesia baik pemerintah pusat maupun pemerintah
Daerah. Quiet ambition pada ASN ini muncul dalam bentuk yang jauh lebih halus,
misalnya: pegawai tetap masuk kerja, melakukan absen pagi, siang dan sore, menyelesaikan
tugas rutin, mengikuti aturan yang telah di tetapkan, akan tetapi tidak ingin
mengambil tanggung jawab tambahan seperti Pengguna Angaran atau Kuasa Pengguna
Anggaran, Pejabat Pembuat Komitmen, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan, Pengurus
Barang dan Bendaraha. Jadi, ketidakmauan para ASN menjadi pejabat dapat dilihat
sebagai bentuk quiet ambition.
Hal ini terjadi karena meningkatnya kesadaran ASN terhadap work-life balance. Banyak pegawai sekarang ini yang sadar dan mulai menilai bahwa jabatan tidak selalu membawa keuntungan yang sepadan. Memiliki Jabatan memang memberikan kewenangan dan status, tetapi juga membawa beban administratif, tanggung jawab hukum, konflik kepentingan, tuntutan pimpinan, pengawasan publik, serta risiko pemeriksaan. Ketika risiko dan beban jabatan dianggap lebih besar daripada manfaatnya, maka ASN cenderung memilih posisi yang lebih aman dan stabil.
Ada beberapa faktor yang membuat jabatan di pemerintahan tidak lagi menarik seperti dulu, diantaranya:
1. Risiko Hukum yang Tinggi
Resiko inilah yang sangat ditakutkan
oleh ASN untuk menjadi Pejabat dan cenderung untuk dihindari para ASN. Pejabat
struktural, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan dan anggaran
seperti Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), atau
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) dan Bendahara Pengeluaran. Jabatan tersebut
merupakan jabatan yang sangat rentan bersentuhan dengan aparat Pemeriksa
seperti INSPEKTORAT, BPK dan BPKP bahkan bisa berujung pada pemeriksaan dari APH
(Aparat Penegak Hukum). Seminim – minimnya kesalahan administrasi bisa berujung
pada pengembalian keuangan Negara yang telah di Belanjakan. Bahkan ada yang
berpendapat bahwa Menduduki jabatan tersebut sama saja dengan satu kaki berada
dalam penjara. Kesalahan administratif kecil sekalipun dapat berujung pada
konsekuensi hukum yang serius. Dalam banyak kasus yang terjadi, bahkan pejabat
yang tidak memiliki niat korupsi tetap bisa terseret masalah hukum karena
kompleksitas regulasi dan tekanan sistem. Akibatnya, jabatan bukan lagi dilihat
sebagai peluang, melainkan sebagai risiko. Sehingga kebanyakan ASN sering melakukan
kalkulasi secara rasional: jabatan memberi kewenangan tetapi juga membawa
risiko yang besar. Jadi untuk apa memiliki jabatan??? Mending berada diPosisi
yang aman saja.
2. Lebih Nyaman Pada Jabatan Fungsional
Adanya Peraturan
Menteri PANRB Nomor 17 Tahun 2021 secara resmi mengatur penyetaraan jabatan
administrasi ke dalam jabatan fungsional, yang memperkuat arah birokrasi menuju
keahlian, profesionalisme, dan kinerja berbasis kompetensi. Adanya Kebijakan
penyederhanaan birokrasi ini telah mendorong pergeseran orientasi karier ASN
dari jabatan struktural ke jabatan fungsional. Hal ini tentu sangat di dukung
oleh ASN karena para ASN dapat bekerja sesuai dengan bidang keahliannya. Selain
itu juga jabatan fungsional ini memberikan kepastian karier pada ASN yang lebih
jelas, dengan berbasis pada kompetensi, dan relatif minim konflik politik
organisasi. ASN dengan Jabatan fungsional ini dapat lebih fokus pada keahlian
teknis yang dimilikinya, memiliki jenjang karier yang terstruktur dan jelas,
serta tetap dapat berkembang tanpa harus “bermain” di wilayah politik
birokrasi. Belum lagi untuk menduduki jabatan fungsional masih ada daerah yang
melakukan jual beli jabatan dengan membayar sejumlah uang yang bervariasi mulai
dari puluhan hingga ratusan juta untuk jabatan tertentu. Hal ini terbukti
dengan banyaknya kepala daerah yang terkena OTT KPK perihal Jual beli Jabatan.
3. Beban Kerja vs Penghasilan yang Tidak Seimbang
Beban Kerja dan Penghasilan yang tidak Seimbang ini juga yang sering menjadi keluhan para ASN. Menduduki Jabatan struktural memang memberikan tambahan penghasilan yang berbeda dibandingkan dengan tidak memiliki jabatan, tetapi sering kali tidak sebanding dengan tanggung jawab dan tekanan yang harus ditanggung dari Jabatan yang didudukinya. Seorang pejabat eselon II atau Pengguna Angaran bisa bertanggung jawab atas anggaran miliaran rupiah, mengelola tim besar, menghadapi audit, baik dari Inspektorat, BPK atau BPKP dan tetap kita harus memenuhi target kinerja tinggi. Belum lagi Laporan dari Masyarakat terkait kegiatan yang kita laksanakan dianggap tidak sesuai. Namun, selisih penghasilan dibandingkan dengan jabatan d bawahnya atau staf tidak selalu signifikan. Belum lagi pengeluaran – pengeluaran yang sifatnya insidensial atas nama kebersamaan yang di himpun oleh pimpinan, yang bisa saja terjadi satu sampai tiga kali dalam sebulan. Memiliki Jabatan ini menuntut kita untuk bisa rapat hingga larut malam, tekanan tinggi, dan tanggung jawab besar dianggap tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh. Pilihan untuk “cukup” bukan lagi dianggap sebagai kegagalan, tetapi sebagai bentuk kesadaran diri. Dengan kondisi ini, maka timbul pertanyaan dari ASN: “Apakah ini layak?”.
4. Perubahan Nilai Generasi ASN
Generasi milenial dan Gen Z,
memiliki orientasi nilai yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya terhadap
pekerjaan. Generasi sekarang ini tidak lagi menjadikan jabatan sebagai
satu-satunya ukuran kesuksesan dalam berkarir. Bagi generasi sekarang, sepertinya
kualitas hidup, kesehatan mental, dan keseimbangan antara pekerjaan dan
kehidupan pribadi (work-life balance) menjadi prioritas yang paling utama.

Posting Komentar untuk "ALASAN ASN TIDAK MAU MENDUDUKI JABATAN"