SEKOLAH TIDAK DAPAT MURID BARU? APA PENYEBABNYA?
Tahun ajaran baru secara resmi
baru berlalu pada 13 Juli kemarin. Setelah menikmati libur kenaikan kelas dan
libur akhir semester yang cukup panjang, siswa dari jenjang pendidikan SD, SMP,
hingga SMA/SMK baru saja kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah
di tahun ajaran yang baru .
Salah satu kegiatan yang biasa di
lakukan atau dilaksanakannya adalah Masa Pengenalan Lingkungan Satuan
Pendidikan (MPLS). Akan tetapi kali ini menyuguhkan realitas yang memilukan
atau adanya Fenomena sekolah yang mengalami krisis murid baru pada masa Sistem
Penerimaan Murid Baru (SPMB). Bahkan Pada 2026 ini, tercatat ada sekolah yang
hanya menerima 1 murid baru atau bahkan ada sekolah yang sama sekali tidak
mendapatkan siswa baru. Mengenai hal ini Apa sebenarnya penyebab dari hal
tersebut. Hal ini hanya berlaku pada Sekolah – sekolah dasar Negeri.
Menurut pengamat pengamatan saya
ada beberapa factor yang cukup kompleks. Mungkin hal ini kita sering
beranggapan atau menyimpulkan bahwa sekolah-sekolah tersebut gagal atau memiliki
kualitas yang buruk. Atau kita beranggapan bahwa pengajaran pada sekolah – sekolah tersebut tidak kreatif. Mari
telusuri beberapa factor yang mungkin menjadi penyebabnya :
Perbandingan Sekolah Swasta dan
Sekolah Negeri.
Menurut pandangan saya dan cerita
dari beberapa orang tua siswa mengapa lebih memilih sekolah swasta dari pada
sekolah negeri adalah kualitasnya. Hal ini merupakan pergeseran perubahan
persepsi masyarakat terhadap mutu pendidikan. Sekolah negeri yang dulu menjadi
pilihan utama karena murah dan lekat dengan identitas kenegaraan (nasionalisme
pendidikan) kini mulai ditinggalkan. Banyak orang tua menginginkan pendidikan
yang lebih daripada sekadar “tempat belajar”. Mereka menginginkan pembinaan
karakter, penguatan nilai-nilai agama, disiplin, penguasaan bahasa asing, serta
program yang visioner sejak usia dini. Terlebih sekolah – sekolah swasta yang
berbau keagamaan. Seperti Pesantren atau sekolah – sekolah tahfiz, Sekolah
Islam Terpadu, sekolah alam, dan sekolah nasional plus. Di Sekolah tersebut
sejak usia dini telah diajarkan setoran Hapalan terhadap surah – surah quran.
Sementara itu, sekolah negeri
terkesan banyak yang jalan di tempat. Banyak yang masih terjebak dalam
rutinitas administratif, tidak punya identitas atau kekhasan dan kurang
membangun komunikasi aktif dengan masyarakat. Kepala sekolah dan guru terbelit
birokrasi yang kaku, sulit melakukan inovasi karena terperangkap sistem dan
administrasi yang panjang.(PWMU.CO)
Perubahan Pandangan Orang Tua dalam Memilih Sekolah
Jaman dulu orang tua selalu
mempertimbangkan pemilihan sekolah yang dekat dengan rumah sehingga anak tidak
perlu untuk di antar ke sekolah. Orang tua jaman dahulu selalu menjadikan
sekolah terdekat yang menjadi pilihan selain tidak perlu mengantar atau
menjemput ke sekolah, anak – anak juga dipaksa mandiri untuk pergi dan pulang
bersama teman – tamannya. Saat ini orang tua yang selalu meilihkan sekolah yang
dirasa cukup baik. Atau dengan kata lain orang tua sekarang dalam memilih
sekolah sudah mencakup berbagai hal seperti reputasi sekolah, kualitas
pengajaran dan guru, keamanan lingkungan, program keagamaan, penguasaan bahasa
asing, hingga tingkat literasi digital. Sehingga orang tua rela untuk membayar
ongkos antar dan jemput anak sekolah.
Angka kelahiran yang menurun
Gencarnya pemerintah dalam
melakukan Program Keluarga Berencana ini sangat mempengaruhi jumlah anak untuk
sekolah menurut data Angka kelahiran total (Total Fertility Rate atau TFR) di
Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir menunjukkan tren penurunan yang
konsisten, dengan angka TFR bergerak dari sekitar 2,28 pada 2015 menjadi 2,13
pada 2025, yang kini mendekati tingkat ideal penggantian generasi (replacement
level) sebesar 2,1. Data resmi mengenai perkembangan angka ini dihimpun oleh
Badan Pusat Statistik. Banyak keluarga sekarang yang memiliki anak satu dan
paling banyak dua. Hal inilah yang mengurangi anak untuk masuk Sekolah.
Migrasi Penduduk
Terjadi arus Migrasi penduduk .
Banyak orang tua yang produktif pindah dari satu area ke area lain dengan
alasan untuk lebih meningkatkan ekonomi, baik karena pekerjaan, harga rumah
terjangkau, dan faktor lainnya. Ini kemudian menyebabkan ada satu wilayah
kelebihan murid, dan wilayah lain kekurangan murid.
Meningkatnya Ekonomi Masyarakat
Meningkatnya Ekonomi Masyarakat
sangat berpengaruh terhadap pilihan Sekolah. Sehingga sekolah negeri yang
gratis tidak lagi menjadi daya Tarik masyarakat, masyarakat cendrung memilih
sekolah yang berkualitas walaupun biaya sekolahnya yang relative lebih mahal.

Posting Komentar untuk "SEKOLAH TIDAK DAPAT MURID BARU? APA PENYEBABNYA?"