Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

INDONESIA BUTUH KEMANDIRIAN ENERGI, SAATNYA KITA KONVERSI BAHAN BAKAR NABATI KE BAHAN BAKAR MINYAK

 

ANTRIAN SOLAR MENGULAR


Saat ini di berbagai Daerah terjadi kelangkaan BBM alasan yang selalu dijadikan kambing hitam adalah adanya Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat perang Iran-Israel yang melibatkan Amerika Serikat (AS) memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi domestik. Terlebih, Indonesia belum memiliki cadangan penyangga energi atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) yang dimiliki sejumlah negara maju.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai ketahanan energi Indonesia masih tergolong rentan karena tingginya ketergantungan terhadap impor minyak. Hal ini menjadi salah satu penyebab potensi kelangkaan BBM ketika terjadi krisis energi global (cnbc Indonesia).

Bila pemerintah Indonesia mau serius untuk mandiri Energi kita dapat menggunakan produk CPO untuk sebagai pangganti bahan bakar Fosil dimana produksi CPO Indonesia merupakan yang terbesar di Dunia dengan mencapai sekitar 135.000 hingga 140.000 ton per hari.Jumlah ini didapatkan dari total produksi nasional yang mencapai 45 juta hingga 51 juta ton per tahun. Indonesia saat ini adalah produsen sawit terbesar di dunia dan menguasai lebih dari 60% pasar global. (Sumber : kementan.pertanian.go.id)

Bila kita lihat kebutuhan BBM solar Indonesia berdasarkan data Pertamina Patra Niaga, total kebutuhan solar nasional mencapai 72.308 kiloliter per hari. Dari jumlah tersebut, 40.440 KL per hari atau 55,9 persen merupakan solar non-subsidi, sementara 31.868 KL per hari atau 44,1 persen berasal dari solar subsidi atau Jenis BBM Tertentu (JBT). Besarnya konsumsi solar menunjukkan peran penting energi ini dalam mendukung aktivitas ekonomi, distribusi barang, hingga operasional sektor industri.

Disini kita dapat membandingkan kebutuhan Solar dengan produksi CPO Bila kita bandingkan Produksi CPO kita sehari sekitar 140.000 ton sedangkan kebutuhan solar kita 72.308 Kilo Liter. Bila 1 Ton CPO setara dengan 1,14 Kiloliter atau 1 ton Crude Palm Oil (CPO) dapat diolah menjadi sekitar 1.140 liter hingga 1.160 liter Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya jenis biodiesel. Artinya, setiap 1 kilogram CPO akan menghasilkan sekitar 1,14 liter biodiesel. Brarti 140.000 Ton bisa menjadi 159.600 Kiloliter. Kita misalkan saja CPO harian kita gunakan 50% saja untuk BBM maka kita memperoleh 79.800 Kiloliter BBM Solar. Dari data ini kita tidak perlu lagi untuk mengimpor BBM jenis Solar karena kita sudah mandiri untuk BBM Jenis Solar.

Pengalihan Bahan Bakar Nabati (BBN) ke Bahan Bakar Minyak (BBM) bukan hal yang baru di Dunai ini. Contohnya Negara Brasil menjadi salah satu negara yang terhitung sukses dalam produksi dan implementasi bioetanol atau bahan bakar nabati (BBN) ke Bahan Bakar Minyak (BBM). Hingga tahun 2023 lalu, Brasil tercatat berhasil memproduksi bioetanol dengan bahan baku tebu dan jagung hingga 38 miliar liter per tahun. Executive Director Brazillian Ethanol Cluster (APLA), Flavio Castellari menjelaskan bahwa perjalanan Brasil mengembangkan bioetanol sudah dimulai sejak tahun 1975 lalu, yang awalnya hanya memanfaatkan tebu. Namun sejak 5 tahun ke belakang, Brasil mulai memproduksi bioetanol yang berasal dari jagung sebagai alternatif bahan ketika tebu sedang tidak musimnya. (CNBC Indonesia)

CPO juga dapat di olah menjadi Bensin Sawit, menurut Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mereka berhasil mengembangkan bensin sawit (sering disebut Bensa atau Benwit). Dari sekitar 10 kg sawit mentah, proses ini mampu menghasilkan kurang lebih 5 liter bensin.

Selain itu juga PT Kilang Pertamina Internasional, Subholding Refining & Petrochemical Pertamina, juga berkomitmen untuk menyediakan BBM ramah lingkungan di Indonesia. Salah satunya melalui BBM 'hijau' berbasis minyak sawit (CPO), baik untuk Solar maupun avtur. Hal ini telah dilakukannya dengan uji coba komersial bioavtur 2,4% dengan pesawat Boeing, pesawat Garuda, Boeing 737-800NG dan juga sebelumnya dengan CN235. Ini membuktikan bahwa kita sudah mampu untuk memproduksikan bioavtur 2,4%," kata dia dalam acara Energy Corner CNBC Indonesia.  

Besar Harapan kita sebagai masyarkat bahwa antri BBM tidak terjadi dikarenakan kekurangan Pasokan. Dimana kita Indonesia sebagai Negara Besar yang memiliki berbagai Sumber Daya Alam yang sangat kaya. Hal ini butuh dukungan dari berbagai pihak supaya kemandirian Energi dapat kita nikmati. Semoga saja Tercapai….

 

Posting Komentar untuk "INDONESIA BUTUH KEMANDIRIAN ENERGI, SAATNYA KITA KONVERSI BAHAN BAKAR NABATI KE BAHAN BAKAR MINYAK"