Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

JANGAN KEBURU SHOLAT WALAUPUN SUDAH AZAN. TANGGAPAN GUS BAHA

 

JANGAN KEBURU SHOLAT MESKIPUN SUDAH AZAN

Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal sebagai Gus Baha lahir 29 September 1970 merupakan ulama asal Rembang, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai salah satu ahli tafsir al-Qur'an dan merupakan murid Kiai Maimun Zubair . Beliau merupakan ulama yang sangat saya Kagumi dengan Kedalaman Ilmu: saya menilai Gus Baha memiliki pemahaman keagamaan yang sangat dalam, terutama dalam bidang tafsir dan fikih, serta mampu menjelaskan hal rumit dengan cara yang mudah dipahami. Menurut saya beliau juga  Ulama yang Sesuai dengan Kebutuhan Zaman karena ketika kita mengikuti atau mengamati gaya dakwah Gus Baha yang santai, kontekstual, dan menyejukkan sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Sebagai contoh tentang sholat kita diterima atau tidak? Beliau menanggapi dengan santai “ kita ditakdirkan bisa sujud menghadap Allah saja itu sudah keren.

Ketika para ulama mengatakan bersegeralah sholat ketika azan berkumandang dan hentikanlah aktivitas. Akan tetapi lain dengan cara Pandang Gus Baha. Gus Baha’ justru mengingatkan sesuatu yang sederhana, bahkan terdengar mengejutkan bagi sebagian orang.

“Kalau sedang antar barang atau bercengkerama dengan teman, waktu sholat masih panjang, jadi tidak harus segera berhenti ketika adzan.” Atau ketika makanan telah di hidangkan tidak perlu segera meninggalkan makanan tersebut. Kalimat tersebut terkesan sederhana, tetapi menyimpan kedalaman cara pandang. Sejak kecil banyak orang diajarkan bahwa adzan adalah tanda untuk segera menghentikan aktivitas. Padahal dalam fikih, adzan bukan tanda berakhirnya waktu, melainkan tanda dimulainya waktu sholat.

Al-Qur’an menegaskan bahwa sholat memiliki waktu yang telah ditentukan.

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوت

“Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)» 

Para ulama menjelaskan bahwa setiap sholat memiliki awal dan akhir waktu. Selama seseorang masih berada dalam rentang tersebut, sholatnya tetap sah.

Imam An-Nawawi menulis dalam Al-Majmu’:

وَأَوَّلُ الْوَقْتِ فَضِيلَةٌ وَآخِرُهُ جَوَازٌ

“Awal waktu adalah keutamaan, sedangkan akhir waktu tetap diperbolehkan.” (Al-Majmu’, Juz 3)»

Artinya, Memang sholat di awal waktu memang lebih utama, tetapi bukan berarti seseorang itu berdosa jika melaksanakannya di tengah atau akhir waktu selama masih dalam batas yang sah. Di antara awal dan akhir waktu itulah terdapat ruang. Dan di ruang itu merupakan kebijaksanaan manusia bekerja.

Bayangkan seorang sopir yang sedang mengantar penumpang. Jika ia tiba-tiba menghentikan mobil hanya karena adzan baru saja berkumandang, mungkin ia merasa sedang menunjukkan kesalehan. Tetapi bagi orang yang dilayani, tindakan itu justru terasa tidak bertanggung jawab. Atau ketika kita setelah beraktifitas yang menyebabkan badan kita kotor dan bau ketika kita Azan selesai kan kita tidak mungkin langsung sholat, lebih baik kita membersihkan badan sehingga badan kita benar – benar bersih dan wangi sehingga ketika kita melaksanakan sholatpun kita terlihat segar.

Di sinilah agama berbicara melalui kebijaksanaan.

Islam memang memerintahkan sholat. Tetapi Islam juga mengajarkan manusia memahami keadaan. Selama waktu sholat masih panjang, seseorang boleh menyelesaikan tanggung jawabnya terlebih dahulu.

Gus Baha’ menjelaskan dengan bahasa sederhana:

“Kalau waktu sholat tinggal tujuh atau delapan menit, itu yang harus diutamakan untuk sholat. Dalam sepak bola itu seperti injury time.”

Para ulama juga menjelaskan bahwa menunda sholat diperbolehkan selama tidak melewati waktunya.

Ibnu Qudamah menulis dalam Al-Mughni:

وَيَجُوزُ تَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَنْ أَوَّلِ وَقْتِهَا مَا لَمْ يُخْشَ خُرُوجُ الْوَقْتِ

“Boleh menunda sholat dari awal waktunya selama tidak dikhawatirkan keluar dari waktunya.” (Al-Mughni, Juz 1)

Banyak orang mengira kesalehan adalah kecepatan: siapa yang paling cepat berdiri, paling cepat meninggalkan pekerjaan, paling cepat menuju masjid. Tetapi Gus Baha’ mengingatkan bahwa kesalehan yang matang justru lahir dari pemahaman waktu.

Sholat di awal waktu memang utama. Rasulullah SAW bersabda:

«أَفْضَلُ الأَعْمَالِ الصَّلَاةُ لِأَوَّلِ وَقْتِهَا

“Amalan yang paling utama adalah sholat pada awal waktunya.” (HR. At-Tirmidzi)» 

Namun keutamaan tidak selalu berarti kewajiban yang harus dipaksakan dalam setiap keadaan. Kadang-kadang, menyelesaikan tanggung jawab kepada manusia juga merupakan bagian dari tanggung jawab kepada Tuhan. Agama yang matang tidak memusuhi kehidupan. Ia justru membimbing manusia menjalani kehidupan dengan bijak.

Adzan adalah panggilan. Ia memberi tahu bahwa waktu telah dimulai, bukan bahwa waktu telah habis. Maka jangan keburu sholat meskipun sudah adzan—bukan karena meremehkan ibadah, tetapi karena memahami bahwa agama tidak pernah memerintahkan manusia meninggalkan akal sehatnya. Justru dengan akal sehat itulah manusia belajar menempatkan setiap kewajiban pada waktunya. Itulah sebabnya ayat pertama yang turun itu iqro “bacalah” atau berpikirlah.

 

Posting Komentar untuk "JANGAN KEBURU SHOLAT WALAUPUN SUDAH AZAN. TANGGAPAN GUS BAHA "