Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

FENOMENA WHITE LABELING

white labeling


Pada Dasarnya Kita ingin dukung UMKM. Terkadang Kita rela bayar lebih mahal demi logo "Bangga Buatan Indonesia".

Tapi sadarkah kamu? Banyak brand "lokal" yang kamu banggakan sebenarnya tidak memproduksi apa-apa. Mereka cuma Importir yang jago bikin logo.


Fenomena ini disebut White Labeling.

Skemanya licik:

1. Buka Marketplase dari China seperti Alibaba/Taobao, cari barang murah (baju, skincare, elektronik          dan lainnya).

2. Beli dengan jumlah yang banyak misal ribuan pcs dan minta pabrik di China tempel merek sendiri.

3. Masuk Indonesia, bikin konten TikTok sedih tentang "Perjuangan Brand Lokal".

4. Jual dengan harga 5x lipat.

Hasilnya? Kamu tidak sedang menghidupi penjahit atau petani di Indonesia. Akan tetapi Kamu sedang memperkaya pabrik di Guangzhou lewat perantara orang Jakarta.

Apakah ini ilegal? Tidak. Tapi ini Tidak Etis jika narasinya menipu.

Brand lokal sejati itu berjuangan setengah mati dan berdarah-darah di R&D, desain, sourcing bahan baku, dan memberdayakan tenaga kerja lokal.

Saat brand "Fake Local" ini membanjiri pasar dengan harga miring (karena mass production China), mereka justru Membunuh pengrajin lokal asli yang cost produksinya lebih tinggi.

Jadi, kalau kamu beli barang ini, kamu bukan patriot. Kamu korban marketing.

Jadilah "Smart Buyer". Cek asal-usul pabriknya. Cek izin edarnya.

Jangan asal telan ludah "Local Pride" kalau isinya cuma repackaging.

Disinilah di perlukannya peran pemerintah untuk menseleksi barang yang masuk supaya UMKM dalam Negeri bisa tumbuh dan produk yang benar – benar made in Indonesia bisa berkembang. Sehingga pertumbuhan ekonomi dalam negeri bertumbuh dengan baik.


Posting Komentar untuk "FENOMENA WHITE LABELING"